10 Pahlawan Wanita Dari Aceh yang Wajib Diketahui

Pahlawan Wanita Dari Aceh

Pahlawan Wanita Dari Aceh – Wanita millenium Indonesia masih berjuang untuk menegakkan kesamaan haknya, mereka terinspirasi dari R.A Kartini. 7 Abad yang lalu wanita Aceh telah menikmati hak-hak persamaan. Mungkin selama ini kita hanya mengenal Cut Nyak Dien sebagai pahlawan wanita dari Aceh.

Hal tersebut dapat kita pahami karena perjuangannya melawan Belanda sudah difilmkan, yang mana Cut Nyak Dien diperankan oleh Christine Hakim. Sebenarnya Cut Nyak Dien hanya satu dari sekian banyak wanita Aceh yang memiliki perjuangan dan kehebatan yang luar biasa.

Wanita Aceh begitu luar biasa, mereka ikut serta dalam peperangan yang biasanya secara keseluruhan dilakukan oleh kaum laki-laki. Mereka bahkan menjadi panglima, memimpin ribuan pasukan di hutan dan gunung-gunung. Jika ada suaminya yang berpaling muka dari Belanda, wanita Aceh berani meminta cerai.

Kaum laki-laki menerima dan dengan lapang hati memberikan semua jabatan tertinggi dan siap menjadi anak buah istrinya. Beberapa periode, kerajaan Aceh yang berdaulat pernah dipimpin oleh wanita. Selain Cut Nyak Dien, masih banyak pahlawan wanita Aceh lainnya, diantaranya:

Ratu Nahrasiyah

Seorang yang ahli islam yang diutus oleh Belanda untuk memperoleh informasi dan memperoleh titik lemah masyarakat Aceh. Ia menemukan sebuah makam yang indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai yang membuatnya terkagum-kagum.

Makam yang terbuat dari pualam tersebut merupakan makam yang terindah di Asia Tenggara. Makam yang dihiasi oleh ayat-ayat Al-qur’an itu adalah makam seorang Ratu yang bernama Nahrasiyah. Ratu tersebut merupakan seorang pemimpin besar, karena bisa dilihat dari hiasan makamnya yang begitu istimewa.

Ratu Nahrasiyah merupakan putri dari Sultan Zain Al-Abidin. Tidak banyak sumber sejarah mengenai dirinya yang sudah lebih 20 tahun memerintah. Kerajaan Samudera Pasai selalu menghasilkan mata uang emas. Namun, kepemilikan Ratu Nahrasiyah sampai sekarang belum ditemukan.

Sultanah safiatuddin Syah (1641-1675)

Aceh Darussalam adalah sebuah kerajaan yang berdaulat. Syafiatuddin tumbuh menjadi gadis yang cerdas, rupawan dan memiliki ilmu yang mumpuni. Saat dewasa, Syafiatuddin dinihkan oleh ayahnya dengan putera Sultan Pahang Iskandar Thani yang dibawa ke Aceh setelah dikalahkan Sultan Iskandar Muda.

Pada tahun 1636, Sultan Iskandar Muda meninggal dunia. Menantunya lalu diangkat menjadi Sultan Aceh. Lima tahun memerintah kerajaan Aceh Darussalam, ia meninggal dunia pada 15 Februari 1642 tanpa meninggalkan keturunan. Tiga hari setelah berkabung, para petinggi kerajaan sepakat mengangkat sang permaisuri raja. Akan tetapi, menjelang penobatan permaisuri, timbul pertetangan.

Ada dua alasan, pertama Sultan Iskandar Thani tidak memiliki putra dan yang kedua, wanita tidak memiliki kelayakan menjadi raja. Permasalahan tersebut diserahkan kepada Ulama tinggi yang berpengaruh pada saat itu, yaitu Tengku Abdurrauf dari Singkil. Ia menyarankan urusan agama dan urusan pemerintahan dipisahkan.

Dari hukum Islam dan pandangan adat, Syafiatuddin memenuhi syarat menjadi seorang pemimpin. Syafiatuddin juga memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang bagus dan cukup. Para Ulama juga mengeluarkan fatwa bahwa urusan negara dan agama harus dipisahkan selama keduanya tidak bertentangan.

Sultanah membentuk lembaga untuk bermusyawarah, yaitu Balai Rungsari (Institusi yang terdiri dari 4 uleebalang besar Aceh), Balai Gadeng, Balai Majelis Mahkamah rakyat. Diantara 73 anggota tersebut, terdapat sejumlah wanita. Ia merupakan raja besar yang sangat dihormati oleh rakyatnya dan ia juga disegani oleh negara asing.

Ratu Inayat Zakiatuddin Syah

Setelah Naqiatuddin Syah meninggal, ia digantikan oleh Inayat Zakiatuddin Syah. Pada masa pemerintahannya, Inggris dikunjungi oleh Aceh, Inggris ingin membangun sebuah benteng pertahanan untuk melindungi kepentingan dagangnya. Ratu Inayat Zakiatuddin menolak pembangunan benteng tetapi boleh berdagang.

Ratu Inayat Zakiatuddin mengetahui maksud dari pembangunan bersenjata tersebut. Saat itu ia kedatangan seorang tamu yang diutus dari Mekkah. Tamu tersebut bernama El Hajj Yusuf E. Qodri dan datang pada tahun 1683. Dari utusan itu Ratu mendapatkan hadiah. Sekembali ke Mekkah, utusan itu melaporkan kepada Rajanya betapa baik pemerintahan Ratu Kerajaan.

Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah

Sultanah Naqiatuddin merupakan putri Malik Radiat Syah. Ia melakukan banyak perubahan terhadap undang-undang Dasar Kerajaan Aceh serta Adat Meukuta Alam. Pada masa pemerintahannya Aceh dibagi menjadi 3 federasi yang dikenal dengan Sagi (Ihee sagoe). Sagi dipimpin oleh Panglima Sagi.

Maksud dari pembentukan 3 federasi tersebut adalah agar birokrasi tersentralisasi dengan baik. Akan tetapi setiap sagi tidak melakukan pemerintahannya sendiri-sendiri. Sultanah juga menyempurnakan Adat Meukuta Alam yang sebelumnya dirancang oleh Sultan Iskandar Muda.

Kemajuan yang dilakukan oleh Sultanah yaitu mengeluarkan mata uang emas. Masa pemerintahannya hanya sebentar yaitu pada tahun 1675-1678 M, memang tidak banyak prestasi yang bisa dicapainya. Beberapa peristiswa besar yang terjadi pada masa pemerintahannya yaitu terbakarnya Masjid Raya Baiturrahman dan banyak istana yang menyimpan kekayaan ikut terbakar.

Ratu Kamalat Zainatuddin Syah

Sejarah Ratu ini tidak begitu banyak diketahui. Ada 2 versi yang menceritakan tentang asal-usulnya. Perkiraan pertama adalah, ia anak angkat dari Ratu Sultanah Safiatudding Syah dan pendapat lain mengatakan ia adalah adik dari Ratu Zakiatuddin Syah yang merupakan pahlawan wanita dari Aceh.

Pada masa pemerintahannya, para pembesar kerajaan mengalami perpecahan dalam 2 bagian. Golongan kaya bersatu dengan golongan agama dan menginginkan kaum pria kembali duduk dalam kesultanan.

Kelompok yang tetap menginginkan wanita tetap menjadi Raja dan Panglima Sagi. Perbedaan pendapat ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru dan menimbulkan kontak senjata. Namun, kemudian kedudukan Kamalat Syah tidak bisa lagi dipertahankan setelah para Ulama meminta pendapat dari Qadhi Malikul Adil dari Mekkah.

Dalam surat balasan, Malikul Adil mengatakan bahwa kedudukan wanita sebagai raja berselisih dengan syariat islam. Ratu Kamalat Zaiantuddin turun dari tahtanya pada bulan Oktober 1699. Pada masa pemerintahannya, ia mendapat kunjungan dari persatuan dagang Prancis dan serikat dagang dari Inggris East Indian Company.

Laksamana Malahayati atau Keumalahayati

Beliau bukanlah pahlawan komik dari negeri antah berantah, ia benar-benar ada. Keumalahayati merupakan seorang pahlawan wanita dari Aceh. Malahayati merupakan sosok figur yang sering muncul dalam catatan penulis asing dan Indonesia sendiri.

Malahayati menjadi panglima Kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Al-Mukammil (1589-1604). Ia mendapat kepercayaan menjadi seorang yang memiliki kedudukan tinggi dalam militer dari Sultan karena keberhasilannya memipin pasukan wanita. Malahayati berasal dari keturunan Sultan.

Ia merupakan anak dari Mahmud Syah yang merupakan seorang laksamana. Kakeknya berasal dari garis ayahnya dan juga seorang laksamana yang bernama Muhammad Said Yah, putra dari Sultan Slahuddin Syah yang memerintah pada tahun 1530-1539.

Cut Nyak Dien

Siapa yang tidak kenal dengan pahlawan wanita dari Aceh yang satu ini. Suaminya, Teuku Umar meninggal, ia melanjutkan perjuangan bersenjata dengan pilihan “Hidup atau mati di hutan belantara daripada menyerah di tangan Belanda”. Ia membiarkan dirinya mengalami kelaparan di hutan sambil terus dibayang-bayangi oleh pasukan Belanda yang mengejarnya.

Cut Meutia

Pocut Baren

Pocut Meurah Intan

 

 

Tinggalkan komentar